Company News

Want to receive news?

Follow us on social media Facebook, Instagram @dbmedia.indonesia.

Subcribe
IMG

Mengenal 10 Pahlawan Revolusi dan Jasa-Jasanya Dalam Peristiwa G30S/PKI

Okt 1, 2026

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 dikenal oleh masyarakat sebagai peristiwa G30S/PKI, dimana peristiwa ini merupakan salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah eskalasi konflik politik dan dinamika kekuatan militer pada era Orde Lama, terjadi serangkaian penculikan dan pembunuhan berencana terhadap para perwira tinggi TNI Angkatan Darat.
Gelar Pahlawan Revolusi menganugerahi para perwira yang gugur dalam tragedi tersebut atas pengorbanan dan kesetiaan mereka dalam mempertahankan keutuhan serta ideologi negara dari ancaman disintegrasi. Untuk merawat ingatan sejarah dan meneladani jiwa patriotisme mereka, berikut adalah profil dan peran 7 Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

  • 1. Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani

    Cerita Pahlawan Revolusi yang pertama berasal dari Jenderal TNI Ahmad Yani. Beliau lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Pada saat tragedy terjadi, beliau menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ahmad Yani dikenal memiliki pendirian yang sangat teguh terhadap prinsip-prinsip ketentaraan dan menolak keras politisasi militer serta gagasan pembentukan “Angkatan Kelima” yang diusung oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
    Pada dini hari 1 Oktober 1965, kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, diserbu oleh pasukan Pasopati dari Gerakan 30 September. Ahmad Yani gugur dirumahnya setelah menolak untuk ikut secara paksa bersama rombongan penculik.

  • 2. Letnan Jenderal TNI (Anumerta) R. Suprapto

    Letnan Jenderal Anumerta Suprapto merupakan salah satu dari 7 Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Beliau lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920, pada saat itu beliau menjabat sebagai Deputi II Men/Pangad Bidang Administrasi.
    Sebelumnya, beliau turut berjuang dalam pertempuran sengit Ambarawa bersama Panglima Besar Soedirman. Ketegasannya dalam menjaga netralitas dan solidaritas internal Angkatan Darat menjadikannya salah satu target utama yang diculik dari kediamannya dan dibawa ke Kawasan Lubang Buaya sebelum akhirnya gugur.

    Baca Juga: 5 Metode Budgeting Keuangan, Biar Nggak Gampang Boncos
  • 3. Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono (M.T. Haryono)

    Lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924, M.T. Haryono merupakan sosok perwira intelektual yang menguasai beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Keahlian berbahasa dan diplomasinya sangat menonjol sehingga beliau sering dipercaya mengisi jabatan strategis, seperti Deputi III Men/Pangad Bidang Perencanaan dan Pembinaan.
    Saat rumahnya didatangi oleh kelompok penculik pada dini hari, M.T.Haryono mencoba melawan dalam kegelapan sebelum akhirnya tertembak dan jasadnya diangkut ke Lubang Buaya.

  • 4. Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman

    Siswondo Parman atau yang lebih dikenal sebagai S.Parman, lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918. Beliau menjabat sebagai Asisten I Men/Pangad Bidang Intelejen. Karena keahliannya di bidang intelejen, S.Parman mengetahui banyak hal mengenai scenario pergerakan politik bawah tanah saat itu. Hal ini membuatnya menjadi sasaran yang sangat diperhitungkan. Beliau diculik dari kediamannya tanpa perlawanan berarti karena penculik menyamar menggunakan seragam Resimen Tjakrabarawa.

  • 5. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) D.I. Pandjaitan

    Donald Isaac Pandjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli Selatan. Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan menjabat sebagai Asisten IV Men/Pangad Bidang Logistik dan Perbekalan. Beliau memiliki peran besar dalam membangun sistem logistik tantara yang terorganisir serta mempelopori pembentukan Perbekalan Angkatan Darat.
    Saat kediamannya dikepung oleh pasukan G30S, beliau turun dengan mengenakan pakaian dinas militer lengkap. Beliau gugur ditembak di halaman rumahnya saat sedang berdoa sebelum jasadnya dimasukkan ke dalam truk kelompok penculik.

  • 6. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo

    Sutoyo Siswomiharjo lahir pada 28 Agustus 1922 di Kebumen, Jawa Tengah. Beliau mengemban Amanah sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat. Sutoyo merupakan perwira yang sangat memegang teguh integritas dan disiplin hukum tantara. Beliau diculik dari rumahnya dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno, sebelum akhirnya dibawa ke Lubang Buaya dan dikesekusi bersama perwira lainnya.

  • 7. Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean

    Piere Tendean lahir 21 Februari 1939 di Jakarta. Beliau adalah perwira muda berdarah Minahasa-Prancis yang menjabat sebagai ajudan Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal A.H.Nasution.
    Pada malam kejadian, saat rumah Jenderal A.H.Nasution diserbu oleh pasukan penculik, Tendean yang berada di paviliun ajudan langsung keluar menghadapi para penyerang. Demi menyelamatkan atasannya, Tendean mengaku sebagai Jenderal Nsution sehingga beliau yang ditangkap dan dibawa oleh rombongan G30S, sementara Jenderal Nasution berhasil meloloskan diri.

  • 8. Brigjen (Anumerta) Katamso

    Lahir di Sragen pada 5 Ferbuari 1923. Pada masa gejolak September 1965, beliau menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas yang berkedudukan di Yogyakarta.
    Katamso dikenal sangat tegas membina kesatuan di wilayah Jawa Tengah dan membendung infiltrasi paham radikal di lingkungan prajurit. Pada 1 Oktober 1965, giliran markas Korem Yogyakarta yang menjadi sasaran pemberontakan local G30S. Beliau diculik dari rumah dinasnya, dibawa ke kawasan Kentungan, Yogyakarta, dan gugur dieksekusi.

  • 9. Kolonel Infanteri (Anumerta) R.Sugiyono

    Kolonel Sugiyono yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta, lahir di Gunungkidul pada 12 Agustus 1926. Beliau merupakan perwira pendamping setia Brigjen Katamso dalam mengamankan situasi keamanan wilayah DIY dan sekitarnya.
    Saat kembali dari tugas luar kota untuk mengecek situasi di Markas Korem Yogyakarta yang telah dikuasai kelompok pemberontak, Sugiyono ditangkap oleh pasukan pengikut G30S. Bersama Brigjen Katamso, beliau dibawa ke kawasan Kentungan dan gugur sebagai martir pengawal kedaulatan negara.

  • 10. Ajun Komisaris Besar Polisi (Anumerta) Karel Satsuit Tubun (K.S. Tubun)

    AKBP K.S. Tubun Lahir di Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1928. Beliau merupakan anggota Kepolisian Negara (Brimob) yang mengemban tugas sebagai pengawal di kediaman Wakil Perdana Menteri II, Dr.J. Leimana, yang lokasinya berdekatan dengan kediaman Jenderal A.H.Nasution di jalan Teuku Umar, Jakarta.
    Pada dini hari 1 Oktober 1965, ketika kelompok penculik bergerak menyerbu rumah Jenderal Nasution, K.S. Tubun yang sedang bertugas piket bersiaga penuh dan melakukan perlawanan sengit. Beliau gugur tertembak dalam menjalankan tugas menjaga keamanan objek vital dan merupakan satu-satunya anggota Polri yang dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Makna Pengorbanan dan Penghormatan Negara
Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden secara resmi menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi serta kenaikan pangkat anumerta satu tingkat lebih tinggi kepada seluruh putra terbaik bangsa ini. Pengorbanan dan kesetiaan mereka pada Sumpah Prajurit serta Sapta Marga menjadi pengingat abadi bagi seluruh generasi penerus akan pentingnya persatuan, kesiapsiagaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai dasar negara Pancasila.

Comments
Leave A Comment